Sabtu, 09 Juli 2016

Salah Kaprah Diet



H. Agung Yulianto
Gemuk, buncit, tambun, gendut, obes …. merupakan sinonim yang menakutkan bagi sebagian wanita maupun pria. Obesitas merusak penampilan, dan selanjutnya akan menurunkan rasa percaya diri. Tidak heran jika pusat-pusat kebugaran, dan suplemen kesehatan, yang menjanjikan dapat menurunkan berat badan berkilo-kilo dalam seminggu, laris manis. Mereka yang obesitas, tidak segan-segan mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk itu.

Gemuk juga disinyalir sebagai sumber penyakit. Obesitas sering dijadikan kambing hitam untuk penyakit jantung koroner, darah tinggi, kencing manis, hingga kolesterol tinggi. Apalagi penyakit-penyakit tersebut termasuk “big five” pembunuh manusia dewasa ini.

Salah satu solusi mengatasi obesitas adalah dengan diet. Bermunculanlah makanan dan minuman rendah kalori, pemanis buatan, susu, biskuit. Bahkan, mereka tidak lagi menikmati hidup karena sarapan pagi dan makan malamnya sudah dibuat dalam bentuk instan. Mereka menjadi paranoid dengan pesta ataupun makan enak. Padahal, pesta biasanya dilakukan pada malam hari. Betapa tersiksanya, ia harus berpuasa di tengah manusia yang lainnya menikmati kelezatan hidangan.

Namun, tahukah Anda? Bahwa ternyata dampak dari diet yang tidak sesuai dengan fitrah manusia, dapat berakibat fatal.Kebanyakan cara diet, pasien dilarang atau diharuskan mengurangi mengkonsumsi protein, lemak, karbohidrat dan gula. Makanan yang dianjurkan adalah banyak mengkonsumsi buah dan sayur, serta banyak minum air putih.

Ternyata diet cara ini tidak selalu tepat, bahkan berakibat fatal. Dampak yang mungkin terjadi yaitu :
  1. Kekurangan protein, padahal protein dibutuhkan untuk regenerasi sel rusak, sumber energi untuk metabolisme. Akibat dari kekurangan protein ini adalah rusaknya sistem metabolisme sehingga mengakibatkan aneka penyakit, menurunnya daya tahan tubuh, kulit menjadi kusam dan keriput, mata cekung dan hitam di sekitar kelopak.
  2. Kekurangan karbohidrat, padahal karbohidrat adalah sember tenaga. Kekurangan karbohidrat meningkatkan stress pikiran. Dan stress akan menyebabkan aneka penyakit sampingan lainnya, diantaranya yang paling sering adalah magh atau gastritis kronis.
  3. Diet makanan, adalah sesuatu yang berat dan tidak menyenangkan. Sehingga biasanya pasien tidak dapat melakukannya dalam jangka waktu yang lama. Ketika pasien kembali pada pola makan seperti semula, maka berat badan seketika naik bahkan melebihi berat bada semula. Inilah yang disebut dengan efek yo-yo, dimana berat badan turun, kemudian naik lagi bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
  4. Diet menyebabkan turunnya berat badan, yang disebabkan hilangnya lemak, namun disertai hilangnya otot. Biasanya, lemak yang hilang sekitar 60% dan otot sekitar 40%. Ketika, pola makan kembali seperti semula, dalam waktu singkat berat badan kembali naik, namun ironisnya penambahan berat badan ini 90% lemak dan 10% otot. Akibatnya, efek yo-yo ini menghasilkan tubuh semakin banyak kadar lemaknya, dan semakin tinggi kolesterolnya.
Melihat dampak negatif yang muncul akibat diet yang tidak tepat, perlu diupayakan cara lain yang lebih aman. Saat ini sedang trend yang disebut food combining. Namun food combining agak sulit diterapkan. Sehingga kontinuitasnya menjadi sulit dipertahankan.
Saya memiliki, metode yang terbukti ampuh, dengan cara yang jauh lebih mudah, aman dan murah. Saya akan ulas pada tulisan berikutnya.

Rabu, 06 Juli 2016

Bisakah budidaya Kurma di Indonesia ?



Organikilo.co - Budidaya buah Kurma di Indonesia apakah bisa??, apakah dapat berbuah ?? di negara kita pohon palem kurma sulit berbuah!? . Mungkin itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering didengar oleh telinga kebanyakan masyarakat indonesia, bahkan tidak sedikit insinyur pertanian serta media-media cetak atau elektronik menganggap pohon kurma yang berbuah di negeri kita dianggap suatu hal kebetulan hingga keajaiban.

Bahkan admin blog Organikilo pernah melihat acara stasiun televisi swasta meliput pohon palem kurma miliki seorang ustad Ha***no yang telah berbuah dinyatakan "suatu hal yang diluar nalar manusia" :p . Sungguh tragis!!, media yang seharusnya membangun serta memberikan motivasi pertanian indonesia, malah menyuguhkan opini memalukan.
Kebun Kurma di Indonesia

Sejauh ini perkebunan kurma didalam negeri kita masih baru dimulai, kebun yang telah dirintis oleh jonggol farm milik Muhaimin Iqbal berlokasi di daerah Bogor - Jawa Barat. Dengan adanya perkebunan-perkebunan kurma di indonesia, diharapkan dapat mengurangi nilai impor buah kurma yang mencapai  17,300 ton/ januari-mei 2014 dengan kisaran nilai USD $ 23,2 juta ( berdasarkan data BPS ).

Karena nilai impor yang begitu besar terhadap komoditas kurma, petani di indonesia mempunyai prospek cerah untuk membudidayakan palem kurma ( Phoenix dactylifera ). Sehingga kemakmuran yang dirasakan oleh petani kurma luar negeri, dapat dirasakan dan dinikmati oleh para petani dalam negeri.
Negara Anggota ASEAN Penghasil Kurma

Di Asia tenggara perkebunan kurma telah menunjukkan geliatnya, Negara anggota ASEAN yang telah membudidayakan buah kurma secara besar-besaran adalah Thailand dan Malaysia. Iklim negeri tetangga tersebut sangat persis sekali dengan kondisi di tanah air kita bahkan kondisi tanah di negara kita lebih subur jika di bandingkan kedua negara tetangga tersebut, Indonesia telah ketinggalan 11 tahun dari Thailand dan sekitar 8 tahun dengan malaysia dalam hal budidaya kurma.

Universitas di negara kita telah banyak mencetak insinyur pertanian sejak dahulu kala, namun hingga sekarang masih banyak yang sibuk memperdebatkan, bahwa pohon kurma atau Phoenix dactylifera sulit berbuah di negara kita. Coba kita intip pertanian di negeri sebelah yang sudah mulai ancang-ancang menjadi pengekspor kurma dalam waktu dekat.  Bahkan ada sebuah perusahaan agroThailand yang sudah mengekspor bibit-bibit kurma unggul ke negara-negara timur tengah.

Bagaimana dengan pertanian dan perkebunan kurma di indonesia??, dengan adanya pembukaan perkebunan kurma Jonggol farm yang berlokasi di Bogor - Jawa Barat. Diharapkan dapat memicu atau merangsang para petani untuk membudidayakan tanaman palem kurma ini.

Dalam rangka menyongsong MEA (Masyarakat Ekonomi Asean ) apakah kita hanya menjadi penonton atau menjadi aktor dalam hal budidaya buah kurma ini??. Jika tiada langkah atau upaya untuk memulai bertanam palem Phoenix dactylifera, maka kita hanya menjadi negeri dan rakyat konsumen buah kurma saja!. Sedangkan nilai impor buah kurma dari tahun ke tahun terus meningkat, seiring bertambahnya populasi atau jumlah penduduk rakyat indonesia.
Kurma Bahan Makanan Masa Depan

Buah kurma termasuk sumber makanan atau bahan makanan masa depan, ini karena dalam hal pembudidayaan pohon kurma tidak membutuhkan tanah khusus. Palem Phoenix dactylifera mempunyai adaptasi tinggi terhadap tanah yang sangat miskin unsur hara sekalipun bahkan pohon kurma memiliki toleransi yang tinggi di tanah yang bergaram.

Karena sifat dan adaptasi tinggi terhadap berbagai macam jenis tanah, pohon kurma merupakan kandidat penghasil bahan makanan yang harus diperhitungkan. Jika budidaya padi membutuhkan banyak air dan harus menanam kembali untuk panen, Namun pohon kurma hanya sekali tanam dan selanjutnya akan berproduksi serta dapat bertahan hidup hingga mencapai usia ratusan tahun. Nah, karena alasan tersebut marilah kita mulai berbudidaya kurma untuk masa depan dan menggapai kehidupan masyarakat petani yang lebih cerah & makmur !.

Senin, 04 Juli 2016

Perihal Tradisi Mudik,,,




Oleh : Nur Rokhman Albanjary
Catatan akhir Ramadhan 1437 H 
Dear sahabat’s,, kata seorang sahabatku Ari Fahry dalam akun FB nya “Ini adalah hari2 yang paling membahagiakan bagi mereka yg punya kampung” yaa mungkin betul, karena hari ini adalah musim mudik lebaran 2016.. Mudik asalnya dalam bahawa jawa adalah mulih dilik (pulang sebentar) yang bisa diterjemahkan juga menjadi mulih udik (pulang kampung) adalah tradisi yang sudah lama berjalan setiap tahun bagi masyarakat Indonesia terutama yang muslim, seiring perkembangannya banyak juga non muslim yang ikut mengikuti tradisi mudik ini.
Namun menurut saya seandainya mudik tidak usah disaat Akhir Ramadhan itu lebih baik, terutama dari beberapa hal berikut :
1.   Ummat islam di akhir Ramadhan akan bisa fokus memaksimalkan ibadah untuk lebih menyempurnakan amaliah Ramadhan karena tidak disibukkan dengan hiruk pikuknya mudik dan berbagai persiapannya
2.   Terhindar dari kaum muslimin yang batal atau membatalkan puasanya karena kelelaham dan beratnya dalam menempuh perjalanan mudik
3.   Dapat lebih meramaikan masjid-masjid dengan segala bentuk ibadah guna menggapai keutamaan 10 hari terakhir dibulan Ramadhan, dan untuk memotivasi hal ini Pemerintah bisa membuat aturan jam kerja lebih cepat dari hari biasanya di 10 hari akhir Ramadhan, disertai himbauan bagi kaum muslimin agar lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk beribadah
Dengan demikian in syaa ALLAH NEGERI INI AKAN LEBIH DIBERKAHI
Sedangkan untuk urusan mudik yang tetap sangat dibutuhkan sebagai ajang mempererat kembali tali silaturrahim dan ukhuwah bisa dijadwalkan setelah Ramadhan usai, atau bisa dialihkan pada bulan dzul hijjah bersamaan dengan hari raya Iedul Qurban dengan tujuan agar kaum muslimin yang merantau di kota kembali lagi ke kampung halaman mereka dan melaksanakan penyembelihan hewan Qurban di kampunya yang akan membawa beberapa manfaat yang bisa didapat dengan pengkondisian ini, diantaranya :
1. Mensyiarkan Qurban dikampung-kampung yang masih minim penyembelihan hewan Qurban baik karena tingkat ekonomi masyarakatanya yang masih kurang atau karena tingkat keasadarannya terhadap Qurban yang belum terbangun
2. Sektor penjualan hewan Qurban akan banyak yang berpindah ke desa/kampung-kampung sehingga akan menguntungkan para peternak yang mayoritas berada di desa dan bisa memutus beberapa mata rantai perdaganagn hewan Qurban sehingga diharapkan akan memaksimalkan keuntungan bagi para peternak hewan Qurban
3. Masalah polusi hewan ternak di perkotaan seperti yang rutin terjadi terlebih di kota-kota besar karena adanya outlet-outlet dadakan penjual hewan Qurban bisa diminimalisir
Ada juga alternatif lain agar mudik tidak menjadi semakin berat karena root causenya adalah perjalanan massal dalam satu waktu tumpah ruah dijalur yang sama, maka perlu dipertimbangkan dengan mengatur jadwal mudik menjadi 2 gelombang, pertama gelombang pemudik dijadwalkan setelah tgl 1 Syawwal, dan gelombang kedua dijawalkan pada H-3 Iedul Qurban agar H-1 sdh sampai tujuan dan bisa puasa Arofah serta menyiapkan hewan Qurban. Untuk basis pembagian jadwalnya bisa perwilayah (kab/Kota) secara proporsional melalui analisa jumlah pemudik masing-masing kota
Dengan demikian in syaa Alloh akan menjadi lebih baik dari kondisi saat ini dimana perjalanan mudik  semakin berat walaupun sudah berbagai upaya keras dilakukan oleh Pemerintah. Dan hal ini tidak mengurangi jatah para perantau untuk berkunjungan ke orang tua, sanak saudara dan handaitolan di kampung halamannya, karena menjaga dan menyambung tali silaturrahim dalam islam itu wajib, tapi masalah waktunya tidak harus dan tidak hanya dihari raya Iedul Fitri.
Bagi para aparatur yang bertanggungjawab dalam urusan jalan, perhubungan, transportasi dan keamanan hal ini juga akan memperingan tugas-tugas mereka, sehingga cerita mudik tidak akan menjadi cerita ironi tahunan di negeri tercinta ini.
Hal ini perlu dipertimbangkan sebagai solusi out of the box dimana saat ini nampaknya Pemerintah dan lembaga-lembaga terkait hanya terkungkung dengan solusi klasik yaitu perbaikan sarana trasnportasi massal yang entah kapan beresnya, pelebaran dan penambahan jalan seperti tol dll, namun kenyataannya semakin lebar jalan semakin termotiviasi orang untuk memiliki kendaraan pribadi yang tentu ujung-ujungnya semakin menambah parah tingkat kemacetan  saat arus mudik dan arus balik
Demikian semoga bermanfaat dan suatu saat bisa dipertimbangkan oleh para pemikir ummat dan para pemangku negeri ini, mengingat kondisi mudik dari tahun ketahun semakin beraaaaat.. Terimakasih

Sabtu, 02 Juli 2016

Trilemma Beras & Petani Cerdas

Kategori : Entrepreneurship 
Oleh : Muhaimin Iqbal

Kalau (istri) Anda pergi ke pasar hari ini membeli beras medium, hampir dapat dipastikan harganya sudah di atas Rp 10,000/kg. Harga ini sesungguhnya lebih dari dua kali dari harga beras internasional saat ini, karena tiga eksporter beras terbesar dunia bersaing ketat dengan harga yang jauh lebih murah dari beras kita. Dua dari tiga besar eksporter beras tersebut anggota ASEAN, yaitu Thailand dan Vietnam – sedang yang lain adalah India. Lantas apakah kita impor saja beras kebutuhan kita tersebut agar rakyat dapat beras murah ? Tidak sesederhana ini jawabannya.

Rata-rata harga ekspor beras Thailand yang kurang lebih sama dengan beras medium kita tahun ini (sampai November 2015) menurut data FAO adalah US$ 326 /ton atau sekitar Rp 4,500/kg. Sedangkan  yang dari Vietnam harga rata-ratanya US$ 333 atau sekitar Rp 4,600/kg. Setelah ditambah biaya angkut, pajak dlsb. jatuhnya masih jauh lebih murah dari beras kita.

Di lain pihak, harga beras kita yang di atas Rp 10,000 tersebut juga sebenarnya tidak berlebihan  apabila dilihat struktur biaya produksinya. Harga gabah kering panen di tingkat petani  berada di kisaran Rp 4,500,- /kg harga gabah kering gilingnya di kisaran Rp 5,300,-/kg. Dari gabah ke beras rendemennya di kita rata-rata sekitar 63 % , jadi harga pokok beras belum termasuk biaya-biaya proses, tranportasi dlsb – sudah Rp 8,400,-. Maka sangat wajar bila beras medium sampai ke tangan konsumen sudah di atas Rp 10,000/kg.

Dari sinilah muncul apa yang saya sebut dengan trilemma beras, tiga pilihan pelik yang tidak mudah untuk memutuskannya.

Pertama bagi rakyat kebanyakan seperti kita-kita ini, beras yang kwalitasnya baik tetapi murah tentu yang kita cari. Bila hanya faktor harga ini yang menjadi penentu, maka impor beras dari Thailand atau Vietnam yang bersaing ketat tentu dapat menjadi pilihan.

Tetapi pilihan ini akan menjadi pukulan telak bagi para petani padi kita, karena harga produk mereka menjadi tidak bersaing. Dampaknya mereka akan enggan menanam padi, produksi beras nasional akan cenderung turun dan efek jangka panjangnya akan melemahkan ketahanan pangan kita secara keseluruhan.

Masalah lain adalah bila suatu saat supply dari negara-negara pengekspor tersebut karena satu dan lain hal terganggu, maka harga beras kita justru akan meningkat tidak terkendali – persis seperti di meksiko ketika terjadi huru hara tortilla.

Kedua, semata mengandalkan produksi beras secara tradisional seperti selama ini  – yang kita tahu ongkos produksinya sampai menjadi gabah kering giling saja sudah begitu tinggi, juga bukanlah sesuatu yang ideal. Ongkos dari kemahalan biaya produksi dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga di ASEAN produsen beras tersebut – sebenarnya kembali menjadi beban rakyat Indonesia kebanyakan.

Biaya kemahalan tersebut ujungnya kan harus ada yang membayar, dan siapa yang membayar ? adalah para konsumen – yaitu rakyat Indonesia keseluruhan – yang juga tidak semuanya mampu. Di antara rakyat Indonesia ini ada sekitar 29 juta orang miskin, dan bahkan 20 juta diantaranya masih tidur malam dalam kondisi lapar. Kalau saja beras bisa ditekan harganya tinggal sekitar separuh – atau masih sedikit di atas harga beras ekspornya Thailand dan Vietnam, maka ini akan banyak sekali menolong rakyat yang masih miskin dan lapar tersebut.

Ketiga, Indonesia mungkin saja bisa produksi beras secara sangat efisien yang dilakukan dengan mekanisasi pertanian di tanah-tanah yang masih sangat luas seperti di Irian Jaya atau Kalimantan. Tetapi yang bisa melakukan ini tentu hanya para pemodal besar saja.

Apa buruknya kalau pemodal besar terjun ke bisnis yang semula ditangani rakyat petani kebanyakan ini ? dampak buruknya akan seperti warung-warung tradisional di sekitar kita yang tersapu habis oleh jaringan maret-maret yang menyerbu setiap jengkal jalan yang kita lalui.

Jalan di depan komplek perumahan saya panjangnya hanya sekitar 2 km, tetapi saat ini saja sudah ada enam maret-maret yang beroperasi dan yang ke 7 nampaknya juga sudah mendapatkan ijin. Seperti kapital besar yang menyapu habis bisnis retail tradisional inilah kira-kira nasib petani tradisional ketika para konglomerat ikut terjun di produksi bahan pokok pangan seperti beras tersebut.

Kita mengenal ungkapan dilemma, dimakan ibu mati – tidak dimakan bapak mati – lalu kita masih bisa berseloroh dijual saja – agar tidak ada yang mati. Trilemma lebih njlimet dari itu, dimakan ibu mati – tidak dimakan bapak mati – dijual anak yang mati.

Maka menyelesaikan trilemma juga menjadi sangat rumit karena semua pilihannya sulit. Sayapun tidak berpretensi bisa menyelesaikan masalah yang sulit ini, tetapi setidaknya berikut adalah  yang mungkin bisa ditempuh dengan efek samping yang minimal. Solusi ini melibatkan seluruh pihak yang terkait termasuk kita-kita.

Pertama dari sisi pemerintah, adalah tugas mereka untuk berlaku adil sehingga setiap permasalahan diselesaikan secara berkeadilan untuk kepentingan rakyat – bukan kepentingan golongan tertentu. Dalam tugas ini pula, pemerintah harus menahan selama mungkin untuk tidak mengimpor bahan pangan beras kecuali dalam kondisi memaksa – misalnya produksi dalam negeri bener-bener kurang.

Sementara itu para petani juga harus bener-bener disiapkan untuk menjadi para petani cerdas dan efisien, agar pada waktunya nanti – ketika pemerintah tidak lagi bisa menahan kebutuhan impor beras – para petani cerdas ini juga sudah siap dengan berbagai alternatifnya.

Bagaimana menjadikan para petani kita menjadi petani yang cerdas ? infografik dibawah adalah salah satu caranya. Intinya para petani diajari untuk bisa mengoptimalkan hasil pertanian mereka. Bahwa bertani bukan hanya beras, bahkan banyak produk pertanian – yang bernilai tinggi , yang akan mampu bersaing secara global.

Mereka para petani akan selalu dapat ditingkatkan pendapatan mereka bila dari waktu ke waktu bisa ditingkatkan penguasaan teknis produksinya, dan bersamaan dengan itu juga ditingkatkan penguasaan akses pasarnya.

Bagi kita rakyat kebanyakan, kita juga bisa terlibat dalam membantu negeri ini membangun ketahanan pangan dan pada saat bersamaan membantu kesejahteraan para petani – yaitu antara lain dengan cara men-diversifikasi pangan kita.

Kita punya sumber bahan pangan yang sangat banyak ragamnya di dalam negeri, jadi kita harus bisa merubah mindset kita. Tidak lagi pokoknya harus makan beras – meskipun harus diimpor. Kita ubah menjadi pokoknya harus makan  bahan pangan yang dihasilkan di negeri ini sendiri, meskipun itu bukan beras.

Makan beras terus menerus juga tidak selalu baik untuk kesehatan kita, maka bila diversifikasi pangan ini yang kita lakukan – kita bukan hanya menyehatkan ekonomi kita secara keseluruhan – tetapi juga menyehatkan badan-badan kita. InsyaAllah.
sumber : www.geraidinar.com